Jakarta, Mobilitas - Inovasi produksi sumber energi itu dilakukan oleh Republik Rakyat China dengan memanfaatkan sumberdaya yang melimpah di salah satu wilayahnya, Mongolia Dalam.
Laporan Reuters yang disitat Mobilitas di Jakarta, Minggu (20/9/2026) menyebut rencana itu diungkap Wakil Ketua Eksekutif Daerah Otonom Mongolia Dalam, Huang Zhiqiang belum lama ini.
"Kami saat ini terus meningkatkan dan memperkuat kapasitas produksi sumber energi untuk mwningkatkan kemandirian domestik. Salah satunya melalui proyek konversi batu bara menjadi minyak, gas, dan kimia," papar dia.
Laporan riset The Blue Energy yang dinukil Mobilitas di Jakarta, Minggu (20/9/2026) menyebut proses pengubahan batubara menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) bensin dilakukan dengan menggunakan teknologi coal to liquid alias mencairkan batubara.
"Batubara padat dipanaskan pada suhu dan tekanan ekstrem dengan tambahan oksigen serta uap air untuk mengubahnya menjadi gas sintesis. Gas ini terdiri dari karbon monoksida dan hidrogen," bunyi keterangan riset itu.
Gas itu kemudian dibersihkan dari kotoran seperti sulfur, abu, dan partikel pengotor lainnya dan diubah menjadi cairan dengan bantuan katalis.
Cairan itu kemudian disuling dan diproses lebih lanjut melalui hydrocracking atau distilasi untuk menghasilkan fraksi bensin dengan standar BBM yang ada saat ini.
Indonesia yang juga kaya dengan batubara ternyata juga tertarik untuk melakukan hal serupa. Ini seperti diungkapkan Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).
"Profesor -profesor kita dari fakultas-fakultas teknik, sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit, dan sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit. Dan nanti, kita juga akan bikin bensin dari batu bara," tandas Prabowo. (Rio/Aa)

